10 Manfaat Kesehatan Workout, Jangan Stop Latihan Walau #dirumahaja

sfidn.com – Semenjak pandemi COVID-19 terus menyebar luas di Indonesia, Pemerintah menganjurkan para masyarakatnya untuk melakukan segala bentuk kegiatannya di rumah dan membatasi kegiatan di luar rumah, hal ini dilakukan demi memutus rantai penyebaran COVID-19. Namun, sebagian orang yang terbiasa melakukan aktivitas di luar rumah seperti berolahraga atau latihan fitness tertentu menjadi sangat terganggu dan banyak dari mereka yang berhenti sejenak dari kegiatan olahraganya tersebut. Padahal, Anderson, E. dan Shivakumar, G. (2013) dalam penelitiannya telah menjelaskan bahwa aktivitas fisik seperti berolahraga ini memiliki banyak manfaat kesehatan, baik secara fisik, maupun mental. Bahkan kegiatan ini mampu memperpanjang usia manusia. Oleh sebab itu, untuk Anda yang sedang mematuhi anjuran #dirumahaja, disarankan agar Anda tetap melakukan kegiatan workout atau berolahraga meski di dalam rumah. Berikut ini adalah 10 manfaat yang akan Anda rasakan jika melakukan kegiatan workout secara teratur.

 

1. Meningkatkan Rasa Bahagia

Sekelompok peneliti dari University of Illinois at Urbana-Champaign pada tahun 2016 lalu telah membuktikan bahwa latihan mampu meningkatkan mood, mengurangi perasaan depresi, cemas, dan stress. Kegiatan ini akan menghasilkan perubahan pada bagian otak yang bekerja sebagai pengatur rasa cemas dan stress. Anderson, E. dan Shivakumar, G. (2013) juga menjelaskan bahwa kegiatan ini mampu meningkatkan sensitivitas pada otak untuk memproduksi hormon serotonin dan norepinefrin, suatu hormon yang mampu membantu menghilangkan perasaan depresi. Selain itu, mereka juga menjelaskan bahwa latihan mampu meningkatkan produksi hormon endorfin, yang terbukti mampu meningkatkan energi positif dan mengurangi rasa nyeri. Selain itu, latihan juga sudah terbukti mampu membantu mereka yang menderita rasa cemas berlebih. Anderson, E. dan Shivakumar, G. (2013) kembali menjelaskan bahwa kegiatan ini akan membantu mereka untuk lebih mampu mengontrol kondisi mental dan mengatasi rasa cemas mereka.

 

Fakta menarik lainnya tentang latihan adalah tidak peduli seberapa kuat atau tingginya intensitas latihan Anda, suasana hati atau mood Anda secara otomatis meningkat karena latihan yang Anda jalani. Sebuah penelitian yang melibatkan 24 wanita pengidap depresi dan di terbitkan dalam jurnal Behavior Therapy melaporkan bahwa olahraga dengan intensitas apapun mampu menurunkan perasaan depresi mereka secara signifikan. Sebuah studi lain yang diterbitkan dalam jurnal Stress tahun 2011 meminta 26 pria dan wanita yang sehat untuk berolahraga secara teratur secara terus menerus, lalu mereka diminta untuk berhenti berolahraga selama 2 minggu. Hasilnya, mereka mengalami pengingkatan mood yang negatif. Jadi, berdasarkan penelitian itu bisa disimpulkan bahwa efek latihan atau olahraga atau workout apapun telah  terbukti mampu meningkatkan mood, sehingga jika Anda berolahraga ataupun berhenti berolahraga maka perubahan pada suasana hati Anda akan bisa terasa dalam waktu yang singkat.

 

2. Membantu Menurunkan Berat Badan

Beberapa penelitian telah menunjukan bahwa tubuh yang tidak aktif bergerak adalah faktor utama dalam bertambahnya berat badan dan obesitas. Untuk memahami efek latihan pada penurunan berat badan, sebelumnya kita harus mengetahui hubungan antara latihan dan energi yang dikeluarkan karena berlatih. Kita tahu bahwa tubuh kita akan menggunakan energi dengan tiga cara, yaitu mencerna makanan, berolahraga, dan mempertahankan seluruh kinerja fungsi organ tubuh. Saat Anda melakukan diet rendah kalori, maka asupan rendah kalori justru akan menurunkan laju metabolisme Anda yang akan menunda hasil penurunan berat badan. Sebaliknya, para peneliti telah banyak membuktikan bahwa melakukan latihan olahraga secara teratur mampu meningkatkan laju metabolisme di dalam tubuh untuk bisa meningkatkan jumlah pembakaran kalori, sehingga berat badan Anda akan turun lebih cepat. Selain itu, sebuah penelitian lampau yang diterbitkan dalam jurnal Diabetologia telah menunjukkan bahwa menggabungkan latihan aerobik dengan latihan resistensi mampu memaksimalkan pembakaran lemak dan memelihara massa otot. Hal ini sangat baik untuk Anda yang ingin menjaga berat badan atau menurunkan berat badan .

 

3. Meningkatkan Kesehatan Tulang dan Otot

Latihan memiliki peranan yang penting dalam meningkatkan dan mempertahankan massa otot serta tulang yang kuat. Beberapa jenis latihan olahraga seperti angkat beban atau fitness mampu merangsang pembentukan otot saat diiringi dengan asupan protein yang cukup. Hal ini terjadi karena latihan tersebut mampu melepaskan hormon yang bertugas dalam meningkatkan kemampuan otot dalam menyerap asam amino. Tipton, K. D., & Wolfe, R. R. (2001) menjelaskan bahwa asam amino tersebut mampu membantu otot untuk berkembang lebih besar dan mengurangi kerusakan otot.

 

Seiring bertambahnya usia, para lansia lebih cenderung kehilangan massa dan fungsi ototnya, yang bisa menyebabkan cedera hingga cacat. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Current Protein & Peptide Science menjelaskan bahwa aktivitas fisik seperti latihan olahraga yang dilakukan secara teratur sangat penting dilakukan untuk mengurangi terjadinya penyusutan otot dan mempertahankan kekuatan otot seiring dengan bertambahnya usia. Sekelompok peneliti dari Universiti Kebangsaan Malaysia Medical Centre menambahkan bahwa olahraga mampu membantu kepadatan tulang para anak muda, sehingga bisa mencegah terjadinya osteoporosis di hari tua. Lebih menariknya lagi, Tenforde, A. S., & Fredericson, M. (2011) membuktikan bahwa olahraga yang memiliki dampak tinggi pada tulang seperti senam, lari, sepak bola, bola basket, dll. mampu membantu meningkatkan kepadatan tulang yang lebih tinggi daripada olahraga yang tidak memiliki dampak tinggi pada tulang seperti berenang dan bersepeda.

 

4. Membantu Meningkatkan Energi Tubuh

Puetz, T. W. (2006) menjelaskan bahwa latihan olahraga mampu meningkatkan energi untuk mereka yang dalam kondisi sehat maupun mereka yang memiliki beberapa masalah kesehatan tertentu. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychotherapy and Psychosomatics melaporkan bahwa latihan olahraga yang dilakukan selama 6 minggu secara teratur mampu mengurangi rasa lelah pada 3 orang sehat yang sebelumnya rentan mengalami rasa lelah berkepanjangan. Selain itu, sebuah penelitian yang berjudul Exercise therapy for chronic fatigue syndrome menemukan bahwa olahraga mampu meningkatkan energi mereka yang mengalami chronic fatigue syndrome (CFS) atau sindrom kelelahan kronis dan penyakit serius lainya secara signifikan. Berdasarkan penelitian tersebut, latihan olahraga tampak lebih efektif dalam mengatasi penyakit CFS dari pada perawatan lainnya. Studi lainnya yang dipublikasikan dalam jurnal Cochrane Database of Systematic pun menemukan bahwa olahraga mampu meningkatkan energi pada mereka yang menderita berebagai penyakit progresif, seperti kanker, HIV/AIDS dan multiple sclerosis.

 

5. Dapat Mengurangi Risiko Terkena Penyakit Kronis

Sebuah penelitian yang di terbitkan dalam jurnal Comprehensive Physiology tahun 2012 mengungkapkan bahwa kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur adalah penyebab utama terkena beberbagai penyakit kronis. Sekelompok peneliti dari Duke University Medical Center lantas menambahkan bahwa olahraga teratur telah terbukti mampu meningkatkan sinsitivitas insulin, kesehatan kardiovaskular, komposisi tubuh, menurunkan tekanan darah, sampai menurunkan kadar lemak dalam darah. Sebaliknya, olahraga yang dilakukan dengan sangat jarang atau kurang teratur, mampu menyebabkan peningkatan lemak perut yang sangat signifikan, meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga kematian dini. Oleh karena itu, latihan olahraga sangat dianjurkan untuk meminimalisir diri dari terkena berbagai penyakit kronis yang berbahaya.

 

6. Dapat Meningkatkan Kesehatan Kulit

Kulit yang menempel pada tubuh Anda dipengaruhi oleh jumlah stress oksidatif yang ada di dalam tubuh. Stress oksedatif dapat terjadi saat pertahanan antioksidan yang ada di dalam tubuh tidak sepenuhnya mampu memperbaiki kerusakan yang ditimbulkan oleh radikal bebas pada sel. Sehingga, kondisi ini bisa merusak struktur internal kulit dan merusak kulit Anda. Namun, sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Asian Pacific Journal of Cancer Prevention menjelaskan bahwa latihan yang dilakukan dengan intensitas sedang dan dilakukan secara teratur mampu meningkatkan produksi antioksidan di dalam tubuh secara alami, yang berguna untuk melindungi sel tubuh. Selain itu, olahraga juga dapat menstimulasi aliran darah dan menginduksi adaptasi sel kulit sehingga mampu menunda penuaan kulit.

 

7. Membantu Kesehatan Fungsi dan Memori Otak

Latihan olahraga yang dilakukan secara teratur pun mampu meningkatkan fungsi otak, menjaga daya ingat, serta keterampilan berpikir Anda. Peningkatan detak jantung yang terjadi karena berlatih mampu melancarkan aliran darah dan oksigen yang dibutuhkan oleh otak. Kondisi ini akan merangsang produksi hormon yang mampu meningkatkan pertumbuhan sel otak Anda. Selain itu, berlatih juga mampu mencegah diri dari terkena berbagai penyakit kronis yang berefek pada otak. Kirk-Sanchez, N., & McGough, E. (2013) menambahkan bahwa melakukan aktivitas fisik atau latihan secara teratur sangat penting bagi para lansia untuk mendorong perubahan struktur dan fungsi otak mereka.

 

Latihan olahraga juga telah terbukti mampu mengaktifkan suatu bagian dari otak yang disebut dengan hippocampus yang berguna dalam meningkatkan daya ingat, pembalajaran, dan tumbuh kembang. Bagian otak ini juga berperan penting dalam meningkatkan fungsi mental para lansia. Terakhir, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Current Alzheimer Research berhasil membuktikan bahwa latihan mampu mengurangi perubahan pada otak yang bisa mengakibatkan penyakit Alzheimer dan skizofrenia.

 

8. Meningkatkan Kualitas Tidur

 Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Medicine Reviews menjelaskan bahwa olahraga yang dilakukan secara teratur mampu membantu Anda agar lebih rileks dan mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik. Dalam kondisi ini, energi yang berkurang selama melakukan latihan akan menstimulasi proses pemulihan selama melakukan tidur. Selain itu, sekelompok peneliti dari  University of South Australia menjelaskan bahwa peningkatan suhu tubuh yang terjadi saat latihan di klaim mampu meningkatkan kualitas tidur.

 

Telah banyak penelitian yang mempelajari efek latihan pada tidur dan hasil penelitian tersebut hampir semuanya sama. Satu studi yang dipublikasikan dalam jurnal Mental Health and Physical Activity menemukan bahwa latihan yang dilakukan selama 150 menit perminggu dengan intensitas sedang hingga berat terbukti mampu meningkatkan kualitias tidur hingga 60%. Penelitian lainnya yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Medicine tahun 2010 melaporkan bahwa latihan yang dilakukan selama 16 minggu mampu meningkatkan kualitas tidur dan membantu 17 orang lain yang sebelumnya menderita insomnia. Selain itu, hal ini juga mampu membuat mereka lebih berenergi di keesokan harinya. Penelitian tersebut juga melaporkan bahwa melakukan latihan olahraga secara teratur tampak sangat berguna bagi para lansia yang cenderung mengalami kesulitan untuk tidur.

 

9. Mengurangi Rasa Sakit

Hampir seluruh jenis penyakit kronis mampu melemahkan kondisi kesehatan tubuh, dan olahraga sebenarnya mampu membantu mengurangi rasa sakit yang disebabkan oleh penyakit kronis tersebut. Namun, mereka yang mengalami kondisi penyakit kronis selalu dianjurkan untuk memperbanyak istirahat dan tidak boleh terlalu aktif dalam bergerak. Padahal, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Cochrane Database of Systematic Reviews telah membuktikan bahwa aktivitas latihan olahraga mampu membantu meringankan rasa sakit kronis. Bahkan, penelitian tersebut juga melaporkan bahwa olahraga mampu membantu mengurangi rasa nyeri dan meningkatkan kualitas hidup para pesertanya.

 

Selain itu, Mior, S. (2001) dalam penelitiannya telah berhasil membuktikan bahwa olahraga mampu mengendalikan rasa sakit terkait berbagai kondisi kesehatan tertentu, seperti nyeri penggung bawah, fibromyalgia dan gangguan bahu jaringan lunak kronis. Sekelompok peneliti dari University of New South Wales pun menambahkan bahwa aktivitas fisik seperti berolahraga mampu meningkatkan toleransi rasa nyeri dan mengurangi rasa nyeri.

 

10. Meningkatkan Kehidupan Seks yang Lebih Baik

Levin, S. (1993) menjelaskan bahwa aktivitas olahraga sudah terbukti mampu meningkatkan dorongan seks. Dia juga menjelaskan bahwa olahraga yang dilakukan secara teratur mampu memperkuat sistem kardiovaskular, meningkatkan sirkulasi darah, mengencangkan otot dan meningkatkatkan fleksibilitas, yang secara keseluruhan  mampu meningkatkan kehidupan seks.  Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Urology turut melaporkan bahwa aktivitas fisik seperti latihan olahraga mampu meningkatkan kinerja dan kenikmatan seksual, serta meningkatkan frekuensi aktivitas seksual. Dalam penelitian yang diikuti oleh 178 pria sehat tersebut, mereka yang melakukan lebih banyak waktu dalam berolahraga per minggu mengaku memilki aktivitas seksual yang lebih tinggi.

 

Sebuah penelitian yang telah diikuti oleh para wanita berusia 40-an tahun dan diterbitkan dalam jurnal Health and quality of life outcomes melaporkan bahwa mereka lebih sering mengalami orgasme saat melakukan lebih banyak latihan workout yang lebih berat, seperti sprint, HIIT, dan latihan angkat beban atau fitness. Satu studi yang di publikasikan oleh The American Journal of Cardiology tahun 2015 turut menemukkan bahwa rutinitas sederhana seperti berjalan selama 6 menit di sekitar rumah, mampu membantu disfungsi ereksi sebanyak 71% pada 41 peserta pria. Tidak sampai di situ, sekelompok peneliti dari University of California berhasil membuktikan bahwa aktivitas fisik yang dilakukan selama 60 menit berjalan kaki selama tiga setengah hari perminggu mampu meningkatkan perilaku seksual, termasuk frekuensi, fungsi, dan kepuasan pada 78 pria yang sebelumnya mengalami masalah seksual. Terlebih lagi, para peneliti dari Ribeirão Preto Medical School of University of São Paulo, Brasil menunjukkan bahwa para wanita yang mengalami sindrom ovarium polikistik mampu mengalami peningkatan gairah seks setelah melakukan pelatihan reisistensi rutin selama 16 minggu.

 

--- Related Article ---

 

Kesimpulan

 

Aktivitas fisik seperti berolahraga telah terbukti memiliki manfaat yang luar biasa pada hampir setiap aspek kesehatan tubuh. Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur ini mampu meningkatkan produksi hormon yang mampu membuat tubuh lebih merasa bahagia dan mampu meningkatkan kualitas tidur. Aktivitas fisik ini juga mampu meningkatkan kesehatan kulit, membantu menurunkan berat badan dan mempertahankannya, mengurangi risiko terkena penyakit kronis, hingga meningkatkan kehidupan seks. Jadi, walaupun Anda sedang mengikuti anjuran tenaga medis dan pemerintah untuk #dirumahaja, Anda tetap harus berolahraga di dalam rumah Anda demi mendapatkan 10 manfaat kesehatan diatas.

 

Referensi

  1. Anderson, E., & Shivakumar, G. (2013). Effects of Exercise and Physical Activity on Anxiety. Frontiers in Psychiatry, 4.doi:10.3389/fpsyt.2013.00027 
  2. Ensari, I., Sandroff, B. M., & Motl, R. W. (2016). Effects of Single Bouts of Walking Exercise and Yoga on Acute Mood Symptoms in People with Multiple Sclerosis. International Journal of MS Care, 18(1), 1–8.doi:10.7224/1537-2073.2014-104 
  3. Meyer, J. D., Koltyn, K. F., Stegner, A. J., Kim, J.-S., & Cook, D. B. (2016). Influence of Exercise Intensity for Improving Depressed Mood in Depression: A Dose-Response Study. Behavior Therapy, 47(4), 527–537.doi:10.1016/j.beth.2016.04.003 
  4. Poole, L., Hamer, M., Wawrzyniak, A. J., & Steptoe, A. (2011). The effects of exercise withdrawal on mood and inflammatory cytokine responses in humans. Stress, 14(4), 439–447.doi:10.3109/10253890.2011.557109 
  5. Gim, M.-N., & Choi, J.-H. (2016). The effects of weekly exercise time on VO2max and resting metabolic rate in normal adults. Journal of Physical Therapy Science, 28(4), 1359–1363.doi:10.1589/jpts.28.1359 
  6. Koivisto, V. A., Eriksson, J., & Taimela, S. (1997). Exercise and the metabolic syndrome. Diabetologia, 40(2), 125–135.doi:10.1007/s001250050653
  7. Tipton, K. D., & Wolfe, R. R. (2001). Exercise, Protein Metabolism, and Muscle Growth. International Journal of Sport Nutrition and Exercise Metabolism, 11(1), 109–132.doi:10.1123/ijsnem.11.1.109 
  8. Stephen D. Anton*, Azumi Hida, Robert Mankowski, Andrew Layne, Laurence M. Solberg, Arch G. Mainous and Thomas Buford, “Nutrition and Exercise in Sarcopenia”, Current Protein & Peptide Science (2018) 19: 649. https://doi.org/10.2174/1389203717666161227144349
  9. Zulfarina, Mohamed S et al. “Influence of Adolescents' Physical Activity on Bone Mineral Acquisition: A Systematic Review Article.” Iranian journal of public health 45,12 (2016): 1545-1557.
  10. Tenforde, A. S., & Fredericson, M. (2011). Influence of Sports Participation on Bone Health in the Young Athlete: A Review of the Literature. PM&R, 3(9), 861–867.doi:10.1016/j.pmrj.2011.05.019 
  11. Puetz, T. W. (2006). Physical Activity and Feelings of Energy and Fatigue. Sports Medicine, 36(9), 767–780.doi:10.2165/00007256-200636090-00004 
  12. Puetz, T. W., Flowers, S. S., & O’Connor, P. J. (2008). A Randomized Controlled Trial of the Effect of Aerobic Exercise Training on Feelings of Energy and Fatigue in Sedentary Young Adults with Persistent Fatigue. Psychotherapy and Psychosomatics, 77(3), 167–174.doi:10.1159/000116610 
  13. Larun, L., Brurberg, K. G., Odgaard-Jensen, J., & Price, J. R. (2016). Exercise therapy for chronic fatigue syndrome. Cochrane Database of Systematic Reviews.doi:10.1002/14651858.cd003200.pub6 
  14. Payne, C., Wiffen, P. J., & Martin, S. (2012). Interventions for fatigue and weight loss in adults with advanced progressive illness. Cochrane Database of Systematic Reviews.doi:10.1002/14651858.cd008427.pub2 
  15. Booth, F. W., Roberts, C. K., & Laye, M. J. (2012). Lack of Exercise Is a Major Cause of Chronic Diseases. Comprehensive Physiology.doi:10.1002/cphy.c110025
  16. Slentz, C. A., Houmard, J. A., & Kraus, W. E. (2009). Exercise, Abdominal Obesity, Skeletal Muscle, and Metabolic Risk: Evidence for a Dose Response. Obesity, 17(n3s), S27–S33.doi:10.1038/oby.2009.385 
  17. Ross, R. (2000). Reduction in Obesity and Related Comorbid Conditions after Diet-Induced Weight Loss or Exercise-Induced Weight Loss in Men. Annals of Internal Medicine, 133(2), 92.doi:10.7326/0003-4819-133-2-200007180-00008 
  18. (2014). Oxidative Stress and Skin Diseases: Possible Role of Physical Activity. Asian Pacific Journal of Cancer Prevention, 15(2), 561-568.
  19. Crane, J. D., MacNeil, L. G., Lally, J. S., Ford, R. J., Bujak, A. L., Brar, I. K., … Tarnopolsky, M. A. (2015). Exercise-stimulated interleukin-15 is controlled by AMPK and regulates skin metabolism and aging. Aging Cell, 14(4), 625–634.doi:10.1111/acel.12341 
  20. Cotman, Carl & Berchtold, Nicole & Christie, Lori-Ann. (2007). Exercise Builds Brain Health: Key Roles of Growth Factor Cascades and Inflammation. Trends in neurosciences. 30. 464-72. 10.1016/j.tins.2007.06.011.
  21. Kirk-Sanchez, N., & McGough, E. (2013). Physical exercise and cognitive performance in the elderly: current perspectives. Clinical Interventions in Aging, 51.doi:10.2147/cia.s39506 
  22. Anna Pedrinolla, Federico Schena and Massimo Venturelli, “Resilience to Alzheimer's Disease: The Role of Physical Activity”, Current Alzheimer Research (2017) 14: 546. https://doi.org/10.2174/1567205014666170111145817
  23. Kredlow, M. A., Capozzoli, M. C., Hearon, B. A., Calkins, A. W., & Otto, M. W. (2015). The effects of physical activity on sleep: a meta-analytic review. Journal of Behavioral Medicine, 38(3), 427–449.doi:10.1007/s10865-015-9617-6
  24. Driver, H. S., & Taylor, S. R. (2000). Exercise and sleep. Sleep Medicine Reviews, 4(4), 387–402.doi:10.1053/smrv.2000.0110
  25. Gilbert, S. S., van den Heuvel, C. J., Ferguson, S. A., & Dawson, D. (2004). Thermoregulation as a sleep signalling system. Sleep Medicine Reviews, 8(2), 81–93.doi:10.1016/s1087-0792(03)00023-6 
  26. Loprinzi, P. D., & Cardinal, B. J. (2011). Association between objectively-measured physical activity and sleep, NHANES 2005–2006. Mental Health and Physical Activity, 4(2), 65–69.doi:10.1016/j.mhpa.2011.08.001 
  27. Reid, K. J., Baron, K. G., Lu, B., Naylor, E., Wolfe, L., & Zee, P. C. (2010). Aerobic exercise improves self-reported sleep and quality of life in older adults with insomnia. Sleep Medicine, 11(9), 934–940.doi:10.1016/j.sleep.2010.04.014 
  28. Bonardi, J. M. T., Lima, L. G., Campos, G. O., Bertani, R. F., Moriguti, J. C., Ferriolli, E., & Lima, N. K. C. (2016). Effect of different types of exercise on sleep quality of elderly subjects. Sleep Medicine, 25, 122–129.doi:10.1016/j.sleep.2016.06.025 
  29. Geneen, L. J., Moore, R. A., Clarke, C., Martin, D., Colvin, L. A., & Smith, B. H. (2017). Physical activity and exercise for chronic pain in adults: an overview of Cochrane Reviews. Cochrane Database of Systematic Reviews.doi:10.1002/14651858.cd011279.pub2 
  30. Mior, S. (2001). Exercise in the Treatment of Chronic Pain. The Clinical Journal of Pain, 17(Supplement), S77–S85.doi:10.1097/00002508-200112001-00016
  31. JONES, M. D., BOOTH, J., TAYLOR, J. L., & BARRY, B. K. (2014). Aerobic Training Increases Pain Tolerance in Healthy Individuals. Medicine & Science in Sports & Exercise, 46(8), 1640–1647.doi:10.1249/mss.0000000000000273 
  32. Levin, S. (1993). Does Exercise Enhance Sexuality? The Physician and Sportsmedicine, 21(3), 199–203.doi:10.1080/00913847.1993.11710346 
  33. McNamara, E. R., Alfred-Thomas, J., & Freedland, S. J. (2010). 1500 EXERCISE CORRELATES TO HIGHER SEXUAL FUNCTION SCORES IN A COHORT OF HEALTHY MEN. The Journal of Urology, 183(4), e578.doi:10.1016/j.juro.2010.02.1237 
  34. Ojanlatva, Ansa et al. “Sexual activity and perceived health among Finnish middle-aged women.” Health and quality of life outcomes vol. 4 29. 10 May. 2006, doi:10.1186/1477-7525-4-29
  35. Begot, I., Peixoto, T. C. A., Gonzaga, L. R. A., Bolzan, D. W., Papa, V., Carvalho, A. C. C., … Guizilini, S. (2015). A Home-Based Walking Program Improves Erectile Dysfunction in Men With an Acute Myocardial Infarction. The American Journal of Cardiology, 115(5), 571–575.doi:10.1016/j.amjcard.2014.12.007 
  36. White, J. R., Case, D. A., McWhirter, D., & Mattison, A. M. (1990). Enhanced sexual behavior in exercising men. Archives of Sexual Behavior, 19(3), 193–209.doi:10.1007/bf01541546 
  37. Lara, L. A. S., Ramos, F. K. P., Kogure, G. S., Costa, R. S., Silva de Sá, M. F., Ferriani, R. A., & dos Reis, R. M. (2015). Impact of Physical Resistance Training on the Sexual Function of Women with Polycystic Ovary Syndrome. The Journal of Sexual Medicine, 12(7), 1584–1590.doi:10.1111/jsm.12909 
Tags:
##workout  ##latihan  #hidup sehat 
0 Comment
Leave Your Comment

Vika

February 4, 2021

keren si, ada jurnal atau referensi yang mendukung artikel ini dibuat. karena banyak banget artikel indonesia yang sumbernya gabisa dipertanggungjawabkan. thank you for your information! 

Latest Article

SFIDN Forum
Kandungan Nutrisi Ikan Air Tawar VS Ikan Air laut

April 26, 2019

Posted By: FM.Ibnu Ismail

2 Pelajaran Penting yang Bisa Dicuri dari Para Binaragwan

March 28, 2019

Posted By: FM.Ibnu Ismail