Apa Itu Penyakit OCD? Berikut Gejala dan Penanganannya!

sfidn.com - Kabar mengejutkan datang dari Aliando Syarief, seorang aktor tampan yang baru-baru ini menyita perhatian publik. Lama tak muncul di layar kaca, ia mengaku bahwa dirinya terkena penyakit OCD ekstrem yang sudah berlangsung selama dua tahun terakhir ketika live di instagramnya – seperti dikutip CNN Indonesia.  

Nah, tahukah Anda apa penyakit OCD itu? Apa saja gejala yang dialami oleh penderita OCD? Bagaimana pula cara mengatasi gangguan mental ini? Let’s us talk!

Apa itu penyakit OCD?

Penyakit OCD (obsessive-compulsive disorder) atau gangguan obsesif-kompulsif adalah suatu kondisi di mana seseorang memiliki pikiran, ide, atau sensasi yang tidak diinginkan (obsesi) yang membuat mereka melakukan perilaku secara berulang (kompulsi). 

Banyak orang tanpa OCD juga memiliki pikiran yang berulang, tetapi biasanya tidak sampai mengganggu kehidupan sehari-hari. Beda halnya dengan orang-orang yang menderita OCD, pikirannya bersifat gigih dan perilakunya kaku. 

Jika mereka tidak melakukannya, mereka akan merasa tertekan dan cemas. Pada akhirnya, penderita OCD akan terus melakukan tindakan kompulsifnya untuk mencoba meredakan kecemasannya.

Mereka juga mungkin sudah tahu atau curiga bahwa obsesi mereka ini tidak realistis. Sayangnya, mereka sulit untuk melepaskan diri dari pikiran obsesif atau menghentikan tindakan kompulsifnya. 

Alhasil, mengarahkan mereka pada perilaku yang lebih ritualistik, atau disebut lingkaran setan OCD.

Contoh kasusnya adalah ketakutan berlebihan akan terkontaminasi oleh kuman. Untuk meredakan ketakutan ini, orang dengan OCD akan mencuci tangannya secara kompulsif sampai tangannya terasa sakit dan pecah-pecah.

Gejala OCD

Gejala OCD dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu obsesi dan kompulsi. Banyak orang yang hidup dengan penyakit OCD mengalami obsesi dan kompulsi, tetapi beberapa juga ada yang hanya mengalami salah satunya.

Obsesi

Obsesi adalah pikiran, impuls, atau gambaran yang berulang dan terus-menerus yang menyebabkan emosi yang menyusahkan, seperti jijik atau kecemasan. 

Penderita OCD menyadari bahwa pikiran, impuls, atau gambar adalah hasil dari pikiran mereka dan berlebihan atau tidak masuk akal. Namun, kesusahan yang disebabkan oleh pikiran yang mengganggu ini tidak dapat diselesaikan dengan logika atau penalaran. 

Maka dari itu, kebanyakan dari mereka akan mencoba meredakannya dengan tindakan kompulsi, mengabaikan, atau mengalihkan perhatiannya dengan melakukan aktivitas lain.

Beberapa contoh obsesi yang khas adalah:

  • Takut terkontaminasi oleh orang atau lingkungan (kuman, kotoran, atau penyakit).
  • Perhatian yang ekstrem dengan keteraturan, simetri, atau presisi.
  • Takut melontarkan kata-kata kotor, hinaan, menyinggung, atau cabul.
  • Pikiran atau gambaran seksual atau kekerasan yang mengganggu.
  • Pikiran mengganggu yang berulang tentang suara, gambar, kata, atau angka.
  • Takut kehilangan atau membuang sesuatu yang penting.

Kompulsi

Kompulsi adalah perilaku berulang atau tindakan mental di mana seseorang merasa didorong untuk melakukan dalam menanggapi obsesi. Perilaku kompulsi biasanya mencegah atau mengurangi penderitaan seseorang terkait obsesinya. 

Kompulsi dapat berupa respons berlebihan yang secara langsung berhubungan dengan obsesi, seperti mencuci tangan berlebihan karena takut terkontaminasi, atau tindakan yang sama sekali tidak terkait dengan obsesinya. 

Dalam kasus yang paling parah, pengulangan ritual yang konstan dapat mendominasi hari-harinya, sehingga membuat rutinitas yang normal menjadi tidak mungkin.

Beberapa contoh kompulsi yang khas adalah:

  • Mencuci tangan, mandi, menyikat gigi, atau ke toilet secara berlebihan.
  • Membersihkan benda-benda rumah tangga secara berulang.
  • Memesan atau mengatur sesuatu dengan cara tertentu.
  • Memeriksa kunci, sakelar, atau peralatan berulang kali.
  • Mencari persetujuan atau kepastian dari orang lain terus-menerus.
  • Menghitung atau mengulangi frasa tertentu.
  • Membeli barang yang sama atau mengumpulkan barang-barang tertentu.
  • Menyembunyikan benda-benda yang dapat menyakiti diri sendiri atau orang lain.

Apa yang menyebabkan penyakit OCD?

Penyebab pasti gangguan obsesif-kompulsif tidak diketahui, tetapi para peneliti percaya bahwa aktivitas di beberapa bagian otak ikut andil. 

Lebih khusus lagi, area otak ini mungkin tidak merespons serotonin secara normal – bahan kimia yang digunakan oleh beberapa sel saraf untuk berkomunikasi satu sama lain. 

Di sisi lain, faktor genetika dianggap sangat penting. Jika Anda, orang tua, atau saudara kandung Anda memiliki gangguan obsesif-kompulsif, ada sekitar 25% kemungkinan anggota keluarga dekat lainnya akan mengalaminya.

Faktor risiko

Genetik memang berperan penting, tetapi beberapa faktor risiko berikut juga tidak dapat diabaikan begitu saja, yang mencakup:

  • Mengalami stres atau trauma.
  • Memiliki ciri-ciri kepribadian tertentu, termasuk kesulitan menangani ketidakpastian, perasaan tanggung jawab yang tinggi, atau perfeksionisme.
  • Pelecehan di masa kecil atau pengalaman masa kecil yang traumatis, seperti intimidasi atau pengabaian yang parah.
  • Gejala neuropsikiatri akut pada masa kanak-kanak yang dimulai secara tiba-tiba setelah infeksi atau penyakit lainnya.
  • Cedera otak traumatis.

Namun, perlu diingat bahwa ada kemungkinan memiliki riwayat keluarga OCD, bersama dengan faktor risiko lainnya, tetapi Anda tidak mengembangkan kondisi tersebut. Pun sebaliknya, orang tanpa faktor risiko dapat mengalami OCD.

Penyakit OCD juga sering terjadi bersama dengan kondisi kesehatan mental lainnya, termasuk:

  • Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).
  • Sindrom Tourette.
  • Gangguan depresi mayor.
  • Gangguan kecemasan sosial.
  • Eating disorders.

Faktanya, sekitar 90 persen orang yang hidup dengan OCD memiliki kondisi kesehatan mental lainnya. Namun ingat, memiliki salah satu dari kondisi di atas tidak secara otomatis menempatkan Anda lebih mungkin menderita OCD.

Diagnosis OCD

Dokter Anda mungkin melakukan pemeriksaan fisik dan tes darah untuk memastikan sesuatu yang lain (seperti obat-obatan terlarang, obat-obatan tertentu, penyakit mental lain, atau kondisi medis umum) tidak menyebabkan gejala yang Anda alami. Mereka juga akan berbicara dengan Anda tentang perasaan, pikiran, dan kebiasaan Anda.

Seseorang dapat didiagnosis dengan OCD apabila memiliki:

  • Obsesi, kompulsi, atau keduanya.
  • Obsesi atau kompulsi yang mengganggu dan menyebabkan kesulitan dalam pekerjaan, hubungan, atau bagian lain dari kehidupan, dan biasanya, akan berlangsung minimal satu jam setiap hari.

Pengobatan OCD

Tidak ada obat untuk OCD. Namun, Anda dapat mengelola gejalanya sebaik mungkin melalui obat-obatan, terapi, atau kombinasi perawatan.

Adapun perawatan untuk OCD meliputi:

  • Psikoterapi, seperti terapi perilaku kognitif untuk membantu mengubah pola pikir Anda. Melalui terapi ini, Anda akan belajar untuk mengurangi dan kemudian, menghentikan pikiran atau tindakan OCD Anda.
  • Relaksasi, seperti meditasi, yoga, dan pijat dapat membantu mengatasi gejala OCD yang membuat stres.
  • Pengobatan, seperti obat psikiatri yang disebut selective serotonin reuptake inhibitors, membantu mengendalikan obsesi dan kompulsi. Obat ini mungkin membutuhkan waktu 2-4 bulan untuk mulai bekerja.
  • Neuromodulasi, jika terapi dan pengobatan tidak membuat perbedaan yang cukup, dokter Anda mungkin berbicara kepada Anda tentang penggunaan perangkat yang mengubah aktivitas listrik di area tertentu di otak Anda. 
  • TMS (Transcranial Magnetic Stimulation), perangkat non-invasif yang dipegang di atas kepala untuk menginduksi medan magnet. Alat ini menargetkan bagian tertentu dari otak yang mengatur gejala OCD.

Komplikasi

Beberapa dampak yang dapat terjadi akibat obsessive-compulsive disorder antara lain:

  • Menghabiskan waktu berlebihan karena terjebak dalam perilaku ritualistik.
  • Masalah kesehatan, seperti dermatitis kontak karena sering mencuci tangan.
  • Kesulitan menghadiri pekerjaan, sekolah, atau kegiatan sosial.
  • Kesulitan membentuk atau mempertahankan persahabatan dan hubungan lainnya.
  • Kualitas hidup yang buruk secara keseluruhan.
  • Pikiran dan perilaku bunuh diri.

Ketika OCD dimulai pada masa kanak-kanak, ini mungkin lebih umum terjadi pada pria dibandingkan wanita. Pada usia dewasa, kondisi ini memengaruhi laki-laki dan perempuan pada tingkat yang sama.

Hidup dengan OCD

Meskipun tidak ada obat khusus untuk OCD, perawatan profesional dan berbagai strategi penanggulangan dapat membantu Anda mengelola dan meminimalkan gejala, bahkan menghilangkan dampaknya pada kehidupan sehari-hari Anda.

Mendapatkan bantuan dari terapis yang berpengalaman dalam menangani OCD akan sangat membantu meredakan stres dan meningkatkan kualitas hidup Anda secara keseluruhan.

Terapis Anda juga mungkin menawarkan strategi koping bermanfaat lainnya, termasuk:

  • Latihan pernapasan.
  • Teknik meditasi dan perhatian.
  • Menciptakan rutinitas perawatan diri.
  • Terbuka untuk orang yang dicintai.

Mungkin terasa sulit untuk membicarakan OCD dengan orang-orang dalam hidup Anda. Namun, konon katanya, mengasingkan diri hanya akan memperburuk keadaan.

Jadi, tetaplah terhubung dengan keluarga, teman, dan orang-orang terdekat Anda untuk mendapatkan dukungan emosional dan mungkin, jenis dukungan lainnya yang mungkin diperlukan. Harapannya, ini dapat meningkatkan kesejahteraan hidup Anda secara keseluruhan.

Tidak ada salahnya juga jika Anda bergabung dengan kelompok dukungan OCD untuk terhubung dengan orang-orang yang mungkin lebih memahami apa yang Anda alami.

--- Related Article ---

 

Referensi:

  • American Psychiatric Association (2020). What Is Obsessive-Compulsive Disorder?
  • Healthline (2021). Everything You Need to Know About Obsessive-Compulsive Disorder.
  • Mayo Clinic (2020). Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).
  • Medical News Today (2020). What is Obsessive-Compulsive Disorder?
  • Mind (2019). Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).
  • National Alliance on Mental Illness. Obsessive-Compulsive Disorder.
  • National Institute of Mental Health (2019). Obsessive-Compulsive Disorder.
  • WebMD (2020). Obsessive-Compulsive Disorder (OCD).
Tags:
#OCD  #kesehatan mental  #sfidn  #penyakit OCD  #obsessive compulsive disorder  #gangguan obsesif kompulsif  #gangguan mental  #Aliando 
0 Comment
Leave Your Comment

Latest Article