sfidn - Inilah 8 Akibat Jika Tubuh Kekurangan Protein, Pastikan Cukup!

Inilah 8 Akibat Jika Tubuh Kekurangan Protein, Pastikan Cukup!

sfidn.com - Kekurangan protein memang kerap terjadi, terutama saat Anda sedang diet ketat, memiliki kondisi medis tertentu, stres, atau sudah lanjut usia. 

Faktanya, protein adalah bagian dari zat gizi makro yang menyumbangkan energi cukup besar untuk tubuh Anda di samping lemak dan karbohidrat. Di sisi lain, protein juga diperlukan untuk membangun otot, enzim, hormon, dan memberikan rasa kenyang yang lebih lama. 

Bayangkan jika tubuh Anda kekurangan protein, Anda berisiko tinggi mengalami berbagai masalah kesehatan. Hal ini mungkin diawali dengan perubahan-perubahan kecil oleh tubuh Anda dari waktu ke waktu.

Simak terus artikel berikut untuk tahu lebih banyak tentang dampak buruk tubuh kekurangan protein! 

8 Akibat kekurangan protein yang perlu diketahui

Anda mungkin tidak akan merasakan langsung akibatnya. Namun, tubuh akan mulai memperlihatkan gejalanya seiring waktu, karena kebiasaan makan rendah protein yang terus-menerus dilakukan. 

Berikut 8 efek samping tubuh kekurangan protein yang harus Anda tahu:

1. Edema

Edema merupakan kondisi yang ditandai dengan kulit menggembung dan membengkak, dan ini adalah gejala klasik dari penyakit kwashiorkor.

Penyebab utama edema adalah rendahnya kadar albumin serum, yang mana ini adalah protein paling melimpah di bagian plasma darah.

Salah satu fungsi utama albumin adalah mempertahankan tekanan onkotik, yaitu kekuatan yang menarik cairan ke dalam sirkulasi darah. Albumin akan mencegah penumpukan cairan di jaringan atau bagian tubuh Anda lainnya.

Jika kadar albumin ini menurun, maka kekurangan protein yang parah dapat menyebabkan tekanan onkotik menurun. Akibatnya, cairan jadi menumpuk di jaringan dan menyebabkan pembengkakan (edema).

Mekanisme ini juga bisa menyebabkan cairan terakumulasi di rongga perut, yang merupakan gejala khas dari kwashiorkor.

Perlu menjadi catatan bahwa edema terjadi jika Anda mengalami kekurangan protein yang parah, dan ini jarang sekali terjadi di negara-negara maju.

2. Fatty liver

Fatty liver terjadi karena adanya akumulasi lemak di dalam sel hati. Kondisi ini dapat menyebabkan peradangan, terbentuknya jaringan parut, dan gagal hati.

Orang-orang yang gemuk dan memiliki kebiasaan minum alkohol sering kali menjadi sasaran empuk penyakit ini. Sementara itu, alasan mengapa kekurangan protein dapat menyebabkan fatty liver masih belum jelas.

Hanya saja, sebuah penelitian menunjukkan bahwa ini berkaitan dengan gangguan sintesis protein pengangkut lemak (lipoprotein) yang dapat menyebabkan penumpukan lemak di hati.

3. Masalah pada kulit, rambut, dan kuku

Akibat kekurangan protein selanjutnya adalah penipisan rambut, memudarnya warna rambut, rambut rontok (alopecia atau kebotakan), dan kuku rapuh. Ini karena sebagian besar kulit, rambut, dan kuku terbuat dari protein.

Anak-anak yang mengalami kwashiorkor juga dapat dibedakan melalui kulitnya yang terkelupas, kemerahan, dan bercak kulit (depigmentasi).

Biasanya, gejala seperti ini muncul jika Anda mengalami kekurangan protein yang cukup parah.

4. Kehilangan massa otot

Seperti yang telah disebutkan, protein adalah bahan utama pembangun otot. 

Saat asupan protein Anda tidak memadai, tubuh Anda akan mengambil protein dari otot rangka untuk mempertahankan jaringan, sehingga fungsi tubuh Anda tetap bisa normal. 

Akibatnya, kekurangan protein dapat menyebabkan pengecilan massa otot dari waktu ke waktu, terutama pada orang lansia.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada pria dan wanita lanjut usia menemukan bahwa kehilangan otot lebih besar di antara kelompok yang makan protein dalam jumlah paling sedikit. 

Penelitian lain pun juga menemukan hal yang sama, di mana peningkatan asupan protein dapat memperlambat degenerasi otot seiring bertambahnya usia.

5. Berisiko tinggi patah tulang

Selain otot, tulang Anda juga berisiko mengalami kerapuhan jika asupan protein Anda kurang. 

Protein berperan penting untuk menjaga kekuatan dan kepadatan tulang. Jika asupannya rendah, maka dapat menurunkan kepadatan mineral tulang dan meningkatkan risiko patah tulang.

Satu studi menemukan bahwa peningkatan asupan protein dapat menurunkan risiko patah tulang pinggul pada wanita pascamenopause hingga 69%. Terlebih lagi, protein hewani memberikan manfaat terbesar dalam hal ini.

Penelitian lainnya yang dilakukan pada wanita pascamenopause dengan patah tulang pinggul juga menunjukkan bahwa mengonsumsi 20 gram suplemen protein setiap hari selama setengah tahun dapat memperlambat pengeroposan tulang hingga 2,3%.

6. Menghambat pertumbuhan anak

Peranan protein tidak hanya membantu menjaga massa otot dan tulang, tetapi juga penting untuk proses pertumbuhan yang sehat, terutama pada anak-anak.

Anak-anak yang mengalami kekurangan protein sangat berisiko pertumbuhannya terganggu. 

Stunting adalah tanda paling umum dari kekurangan gizi pada masa kanak-kanak. Bahkan, kondisi ini masih menjadi masalah gizi utama di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. 

Studi observasional telah membuktikan bahwa ada hubungan yang kuat antara asupan protein yang rendah dan gangguan pertumbuhan pada anak. Pertumbuhan yang terhambat ini juga merupakan salah satu ciri utama dari kwashiorkor pada anak.

7. Memperparah infeksi

Akibat kekurangan protein juga dapat berdampak pada sistem kekebalan tubuh Anda. Terganggunya imunitas tubuh dapat meningkatkan risiko atau keparahan infeksi. Umumnya, ini terjadi ketika tubuh mengalami kekurangan protein yang parah.

Satu penelitian pada tikus menunjukkan bahwa mengikuti diet yang hanya terdiri dari 2% protein dapat memperparah infeksi influenza dibandingkan dengan mengikuti diet yang menyediakan protein sebanyak 18%.

Bahkan, asupan protein yang sedikit rendah dari biasanya pun dapat mengganggu fungsi kekebalan tubuh. Hal ini dibuktikan oleh satu studi kecil pada wanita yang lebih tua yang menjalani diet rendah protein selama 9 minggu secara signifikan respons kekebalan tubuhnya menurun.

8. Nafsu makan meningkat

Ketika asupan protein Anda tidak mencukupi, tubuh Anda akan berusaha mengatasinya dengan meningkatkan nafsu makan dan mendorong Anda untuk menemukan sesuatu untuk dimakan. 

Anda pun mungkin mengidam makanan terus-menerus dan sering kali membutuhkan camilan di antara waktu makan.

Ini karena protein adalah zat gizi yang paling mengenyangkan, sehingga membantu membuat Anda kenyang lebih lama. Tidak heran jika Anda kekurangan makronutrien ini, Anda mudah lapar sepanjang hari.

Studi menunjukkan bahwa makan makanan berprotein tinggi (dibandingkan dengan makanan berkarbohidrat tinggi) dapat merangsang sekresi sejumlah hormon kenyang, seperti PYY dan GLP-1. Hormon-hormon ini dapat meningkatkan rasa kenyang dan mengurangi asupan makan Anda berikutnya.

Inilah mengapa asupan protein yang buruk dapat berkontribusi pada penambahan berat badan dan obesitas. Di sisi lain, peningkatan asupan protein dapat memangkas asupan kalori Anda secara keseluruhan dan meningkatkan penurunan berat badan.

Berapa banyak protein yang harus dimakan?

Pada dasarnya, kebutuhan protein setiap orang itu berbeda-beda, bergantung pada usia, jenis kelamin, dan tingkat aktivitas fisiknya.

USDA (2020) menyatakan bahwa kebanyakan orang dewasa mengonsumsi 5,5 ons protein setiap hari, atau 38,5 ons per minggunya. Nah, sekitar 26 ons dalam mingguan ini harus berupa daging, unggas, atau telur; 8 ons harus dari makanan laut; dan 5 ons sisanya berasal dari kacang-kacangan, biji-bijian, dan produk kedelai. 

Dalam buku Penuntun Diet yang ditulis oleh Almatsier, menjelaskan bahwa asupan protein harian orang secara umum adalah sekitar 10-15% dari total energi harian atau setara dengan 0,8-1 gram per kilogram berat badan.

Sementara itu, penganut diet vegetarian disarankan makan 3,5-5,5 ons protein setiap hari bergantung pada total asupan kalori hariannya. Polong-polongan, produk kedelai, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian dibagi secara cukup merata, sedangkan telur dikonsumsi 3-4 ons setiap minggu.

Jika Anda adalah atlet yang serius dengan jadwal latihannya, perlu lebih banyak protein, yaitu sekitar dua kali lipat dari rata-rata orang pada umumnya. Ini berkisar 0,5-1 gram protein untuk setiap pon berat badan setiap hari. 

Namun, pastikan pula asupan protein Anda tidak berlebihan, karena terlalu banyak protein juga dapat menimbulkan masalah kesehatan yang berbahaya.

- Related Article -

 

Referensi:

  • Almatsier, Sunita. 2010. Penuntun Diet Edisi Baru. Jakarta (ID): Gramedia Pustaka.
  • Healthline (2017). 8 Signs and Symptoms of Protein Deficiency.
  • Mindbodygreen (2020). Are You Getting Enough Protein? 7 Surprising Signs You Might Have A Deficiency. 
  • USDA (2020). Dietary Guidelines for Americans (2020-2025).
  • Verywell Fit (2021). The Effects of Protein Deficiency.
  • WebMD (2020). Signs You're Not Getting Enough Protein.

 
Tags:
#protein  #kekurangan protein  #tanda kekurangan protein  #akibat kekurangan protein  #cara mengatasi kekurangan protein 
0 Comment
Leave Your Comment

Latest Article